studio stores

studio stores adalah program ekonomi mandiri, berupa pendirian perusahaan yang bergabung dengan piknikproject, program yang telah berhasil dibangun adalah endonesie skateshop | father monster store | bandit tattoo studio | ixvi cubed store | paviliun kreatif

kerjasama bisnis

bukan saja kamu bisa belanja, tapi juga bisa bekerjasama dalam upaya penjualan produk kreatif dengan kami

urban products

salah satu kepentingan kami adalah upaya pengembangan kreatifitas ekonomi urban, memproduksi, labelisasi, dan mendistribusikannya, bahkan sekala kecil sekalipun

segmentasi kegiatan

ekonomi kecil kreatif mulai dari street skate, musik, clothing industri, clothing distribusi, pameran karya seni, pameran produk, workshop, pertunjukkan kecil dan diskusi perubahan

bekerja sambil belajar

salah satu motto kami adalah bekerja sambil belajar, maka bekerjalah bersama kami untuk membangun hidup lebih baik, mengambil resiko-resiko terbaik, dan bergandengan tangan untuk melakukan upaya-upaya terbaik dalam hidup.

Showing posts with label movie. Show all posts
Showing posts with label movie. Show all posts

Wednesday, April 11, 2012

Satu Abad Jatisura

Thursday, January 5, 2012

REDWINEcoolers - Kampung Halaman (Official Video Klip)






Official Video Klip Redwine Coolers "Kampung Halaman"
Sutradara : Piknik Project
Editor : Aris Item 'Paviliun Kreatif'
Kameraman : Dery Andriyana, Ecaterina Sorochanu, Denni, Joe Lukito, Hafidz
Produksi : Wine Reggae SHop & Bandit Tattoo Cirebon
@ 2012

Saturday, December 31, 2011

Jadwal Program Jaf TV




JAF TV, PAREUMAN BAE !
Siang mulai bersenyawa bersama karbondioksida sisa pembakaran Mesin Bormil Pabrik Genteng dibelakang kantor Jaf yang menusuk hidung dan bikin dehidrasi juga noisetheraphy sekian desibel. Rutinitas di kantor Jatiwangi art factory, pagi, siang sore, juga tentatif kapan saja sesuka hati. Sambil mempersiapkan buat penutupan Village Video Festival 2011, Tipi Program. Tapi Alhamdulillah, Mesin Bormil berhenti, mungkin mau goyang dulu. Tadi malam jam setengah sepuluh abis nonton bareng Kick Andy di Metro TV yang mengundang “The Good Manners”, kelompok musik tanah dari departemen musik keramik Jatiwangi art factory. Ada Tedi, Iyang dan Aaf yang tampil dalam program tersebut, shootingnya dari minggu kemaren tapi baru ditayangkan minggu ini. Tapi sayang obrolan si Andy sama si Tedi dan si Iyang itu banyak yang di-Cut, mungkin karena mereka melakukan Kick Balik terhadap pertanyaan-pertanyaan Kick-nya si Andy tersebut, atau kata Pak Wawan Husin sih mungkin karena durasi yang terlalu panjang, cring. Penonton kecewa (khususnya yang nonton semalam di Jaf Gallery pake infokus Gerobak Bioskop). Tapi jangan khawatir teuman-teuman, kita punya stasiun tipi baru di Desa Jatisura, namanya Jaf TV. Bergembiralah...
Stasiun TV yang dipersiapkan spesial melalui Village Video Festival 2011, buat Warga Desa Jatisura khususnya, oleh para seniman muda dan para “Jagoan” Video dari Indonesia dan Singapore, yang selama dua minggu ini mereka tinggal di lima Dusun di Desa Jatisura ini dan bekerja bersama para remaja, ibu-ibu, bapa-bapa, aparatur desa, dan kawan-kawan, memetakan masalah-masalah yang ada di lima dusun tersebut lewat medium Video.
Ada Oomleo dari Ruangrupa; organisasi nirlaba yang bergiat mendorong kemajuan gagasan seni rupa dalam konteks urban dan lingkup luas kebudayaan, khususnya video. Oomleo bikin Program “Kembang Desa Jatisura”, semacam kontes pemilihan putri kecantikan dari 5 Dusun di Desa Jatisura, Ada Eka dari Dusun Manis, Neti dari Dusun Pahing, Iros dari Dusun Pon, Widya dari Dusun Kliwon dan Rina dari Dusun Wates. Nanti mereka akan dipilih oleh warga Desa Jatisura melalui sistem polling yang disiarkan di Jaf TV berulang-ulang. Sekarang ini banyak orang yang pengen “Masuk Tipi”, khususnya generasi muda, susah payah ikut kontes-kontes pencarian bakat, dll., tapi di Jaf TV semua orang bisa masuk tipi dengan mudah. Masyarakat Jatisura sudah memasuki sebuah era Video, dimana pemanfaatan teknologi audio visual yang sudah sedemikian terbuka, jadi tida ada lagi kecanggungan dan sekedar menjadi penonton, tapi juga mulai terpacu untuk ikut berpartisipasi di dunia teknologi audio visual menurut Oomleo.
Kemudian ada Prilla Tania, seniman video dari bandung, yang tergabung dalam kolektif Videobabes, Pilla adalah nama akrabnya. Sejak tahun 2007 Pilla tertarik dengan persoalan lingkungan hidup, bagamana manusia hidup dengan lingkungan sekitarnya. Pilla tinggal dirumah Paul.is di Dusun Pon dan bikin produksi iklan layanan masyarakat tentang sampah, pengelolaan, pemisahan, bank sampah, dll. “Saya sangat berharap tayangan-tayangan yang kami buat dapat terus mengingatkan warga untuk menjaga kebersihan sehingga Jatisura bisa menjadi desa yang lebih nyaman. Mudah-mudahan warga akan terus ingat untuk membuang sampah pada tempatnya.” Kata Pilla.
Ada Forum Lenteng, Forum Lenteng adalah organisasi nirlaba dari Jakarta yang bekerja dengan merangkum serta mendata aspek-aspek sosial dan budaya yang mencakup kesejarahan dan kekinian di dalam kerangka kajian yang sejalan dengan perkembangan jaman dengan mengadakan pendekatan solusif bagi keberagaman permasalahan sosial dan budaya di Indonesia serta dunia internasional. Mahardika Yudha dan Mohammad Fauzi dari Forum Lenteng bikin program yang berjudul “Warung Kopi” yang merupakan program diskusi atau ngariung di sebuah warung kopi yang merespon kehadiran berita-berita politik melalui media video. Program ini menjadi salah satu cara bagi publik untuk menyalurkan pendapatnya tentang informasi-informasi yang tersebar di wilayahnya melalui berbagai macam saluran atau kanal-kanal distribusi video. Warung kopi sendiri telah menjadi icon bagi berbagai kalangan sebagai ruang untuk membicarakan isu-isu politik. Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga terjadi di belahan dunia yang lain. Warung kopi menjadi tempat bagi publik untuk bertatap muka, bersentuhan, dan berbicara dengan intim melalui pengalaman-pengalaman pribadinya. Episode kali ini membicarakan tentang Obama.
Lalu ada Serrum dari Jakarta. Serrum berasal dari kata Share dan Room yang berarti ruang berbagi. Serrum dibentuk atas dasar kebutuhan berbagi ruang kreatif di dunia seni rupa, anggota serrum kebanyakan adalah sarjana pendidikan senirupa yang bikin metode pembelajaran kreatif lewat medium video. Serrum bikin Program “How To”, video tentang bagaimana caranya membuat sesuatu. Metode ini yang dipakai serrum dalam proses mengajar sehingga lebih memudahkan guru untuk menjelaskan, dan murid juga lebih cepat menangkap apa yang hendak disampaikan oleh guru karena mereka melihat tayangan audio visual yang lebih cepat dicerna ketimbang penjelasan dari guru yang imajinatif. Serrum bikin program How To bikin kerupuk lele, bikin batik ikat celup, bikin terompet tahun baru dari daun kelapa, bikin segel genteng, dan bikin WC sederhana. Yang paling menarik adalah yang Ho To bikin WC sederhana, karena di Jatisura ternyata masih ada Fenomena “Dolbon” atau modol di kebon (buang air besar di kebun). Pada beberapa kasus diare salah satunya diakibatkan oleh kegiatan dolbon tersebut. Oleh karena itu, pak ala selaku kepala umum jatisura mempunyai ide bagaimana membuat wc yang murah, dan efisien bagi warga. Ide pak ala disambut oleh pak aceng dan pak rw, yang kemudian serrum diberi kesempatan untuk meliput kegiatan mereka di dalam membuat wc sederhana di blok kliwon. Kegiatan pembuatan wc tersebut berhasil dengan pengeluaran dana yang minim,yaitu 250.000 rupiah, dan banyak warga yang akhirnya ingin juga membuat sebuah wc yang memang murah,efisien, dan sehat, agar para warga tidak lagi melakukan kegiatan dolbon itu lagi. SAY NO TO DOLBON !
Dan ada Kampung Halaman; organisasi non profit yang mendorong penguatan peran remaja dalam komunitas melalui program pendidikan popular berbasis komunitas. Kampung halaman mengajak remaja-remaja dari dusun manis melakukan riset tentang lingkungan dan memahami strategi membuat media kampanye yang efektif. Para remaja yang berjumlah sekitar 20 orang, dibuat menjadi dua kelompok kemudian tiap kelompok membuat 2 video tentang Dusun Manis, yaitu “Cita-cita ku, Sekolah atau Bekerja” Berkisah tentang Ucu ikut membantu teman sebaya-nya yang bekerja di Jebor. Ucu binggung kenapa Maman tidak bersekolah saja. Padahal bekerja sebagai buruh jebor itu sangat melelahkan. Ucu menyarankan untuk melanjutkan sekolah jika sudah ada biaya. Di Dusun Manis ada 27% anak Remaja berusia 13-18 tahun yang tidak melanjutkan sekolah dikarenakan faktor ekonomi dan malas. Yang kedua “Kukulibekan Ala Si Manis” ceritanya tentang banyak hal yang ida temukan di dusun Manis. Sejaran blok Manis, ada pembuat Pandai Besi yang masih menggunakan cara tradisonal, ada juga tentang nenek tua yang masih gigih berjualan dan makanan khas dan populer di Jatisura. Dua Video ini mencerminkan Remaja bagian dari masyarakat dan mencerminkan Desa Manis itu sendiri. Memberitahukan masyrakat hal-hal kecil yang banyak masyarakat belum ketahui. Lewat medium Video ini Remaja menjadi melek media dan bisa memanfaatkan media disekitar mereka seperti Televisi untuk menyampaikan informasi.
Terakhir ada Ghazi Alqudcy danEzzam Rahman yang telah berkolaborasi membuat video sejak tahun 2005. Karya mereka mengangkat tentang isu-isu sosial di Singapura. Kepuasan mereka dalam membuat karya datang dari reaksi berbagai lapisan masyarakat sekitar. Pada Village Video Festival tahun ini, mereka berharap bisa membagikan ide-ide gila mereka untuk ditertawakan bersama penonton, sekaligus menjadi refleksi bagi diri mereka sendiri maupunorang lain. Pada hari pertama Ghazi danEzzam mengenal warga, merekatertarik pada foto keluarga yang terpampang hampir ditiap rumah. Selain menjadi sebuah dokumentasi, ternyata foto keluarga seperti menjadi sebuah simbol bagaimana berharganya sebuah kehangatan keluarga bagi para warga dusun wates. Karena Foto adalah inspirasi utama mereka, maka Ghazi danEzzam memutuskan untuk membuat sebuah workshop yang mengajarkan warga bagaimana caranya melukis foto keluarga. Lukisan ini nantinya akan dipasang menjadi bendera di dusun wates. Setelah itu mereka mencoba merangkum beberapa keluarga yang menarik di desa ini untuk "dipotret" (melalui video) menjadi sebuah dokumentasi yang merefleksikan waktu dan bagaimana berharganya keluarga mereka. Ghazi percaya bahwa seratus tahun kemudian dokumentasi sekecil apapun akan menjadia arsip yang sangat berharga bagi sebuah negara.
Selamat Menonton,
Pareuman Bae !
Jadwal Program Jaf  TV
Program Termin 1 (14.00 - 18.00)
Workshop KPID
Jalan-jalan Dusun Pon
Jalan-jalan Dusun Pahing
Jalan-jalan Dusun Manis
Workshop Jurnalistik TV
Jalan-jalan Dusun Kliwon
Jalan-jalan Dusun Wates
Wawar Pembukaan (Tipi Paporit)
Persiapan Opening
Opening Foto
Pembukaan VVF (Pendek)
Pembukaan VVF (Panjang)
Kurator Ngobrol
VVF 20 Desember (Serrum – Forum Lenteng)
VVF 20 Desember (Prilla Tania)
VVF 20 Desember (Kampung Halaman)
Workshop Oomleo
VVF 21 Desember (Prilla Tania)
Workshop Krisna Murti
VVF 22 Desember
Workshop Pengolahan Sampah Plastik
VVF 23- 24 Desember (Serrum)
Workshop Prilla Tania - 23 Desember
VVF 24 Des - Forum Lenteng
VVF 25 Des - Workshop Ghazi Ezzam
VVF 25 Des - Serrum Produksi
Jaf TV Dokumen
Video / Film
“Hari dimana kau mengajariku sesuatu” Ghazi Alqudcy & Ezzam Rahman
“Cita-citaku…” Kampung Halaman
Film Dusun Manis
“Kampanye Bank Sampah” Prilla Tania
“Sanggar Cerita” Prilla Tania
“Kembang Desa” Oomleo
Forum Lenteng
Iklan
“Keresek” Prilla Tania
“Buang Sampah”
“Pemisahan Sampah”
ILM Jatisura
ILM Burujul 1
ILM Burujul 2
ILM Loji Leweungede
ILM Sutawangi
Masak
“Dapur Jatisura” Serrum
“Sangu Asak Surak” Prilla Tania
How To
Tie Dye
Terompet
Segel Genteng
WC Murah & Sederhana
Program Termin 2 (18.00-19.00)
Waktu Sholat Maghrib (Pareuman Tipi)
Iklan Program
Video Music “Oomleo - Nyamuk”
Video Music “Oomleo - Jatiwangi”
Program Termin 3 (19.00-21.00)
Waktu Sholat Isya (Pareuman Tipi)
Bumper VVF
Bumper Pembukaan Foto
Iklan Jadwal Program
Kurator Bicara
ILM Jatisura Angkat Kursi
Workshop Kampung Halaman
Iklan Buang Sampah
Sangu Asak Surak
Dapur Jatisura
Iklan Keresek
Lagu Bentang Anak
Workshop Portrait Ghazi Ezzam
Sanggar Cerita
Lagu Tv Anak2
How To Membuat Terompet
How To Tie Dye
Photo Story Sunday Morning
Lagu Tanah Liat Anak-anak
Iklan Keresek
Bumper VVF
Bumper Jadwal
Film Ghazi Ezzam
Film Manis
Cerita Dari Jatiwangi (Forum Lenteng)
Lagu Jatiwangi Oomleo
Video Manis
Profil Pak Dalang
Bumper
Iklan Keresek
Kampanye Bank Sampah
How To Daur Ulang Sampah Plastik
Iklan Keresek Bapak-bapak
Iklan Pemisahan Sampah
Talkshow Politik
How To MCK
Iklan Buang Sampah
How To Segel Genteng
Iklan Buang Sampah Mang Adeng
Bumper VVF Olegun
Bumper Jaf TV
Ucapan Terimakasih Seniman
Ucapan Selamat Tahun Baru
Pidato Penutupan
Pesta Tanah People Clay

Saturday, October 1, 2011

[Movie] pemutaran film 'Tarung'

Mengundang Anda semua pada Peluncuran & Pemutaran film dokumenter "TARUNG"Sutradara: Steve Pillar Setiabudi"


Bertarung itu berpihak, tak mungkin tidak. Kepada siapa? Kepada rakyat." (Amrus Natalsya)


Lukisan kehidupan para seniman Bumi Tarung yang masih tersisa; Amrus Natalsya, Misbach Tamrin,Djoko Pekik, Suharjiyo Pujanadi, Sudiono SP, Gumelar, Isa Hasanda, dan Gultom. Pertarungan karya dengan zaman demi sebuah Revolusi yang dicita-citakan.


Peluncuran dan pemutaran film dokumenter "TARUNG" ini akan dilakukan sekaligus menutup Pameran Besar 50 Tahun Sanggar Bumi Tarung.


Tanggal : 2 Oktober 2011
Tempat : Galeri Nasional Jl. Medan Merdeka Timur (seberang Sta Gambir)
Waktu : 16.00- 17.00 wib
Acara :Pemutaran film dan diskusi.


Acara ini gratis dan terbuka untuk umum.kehadiran anda sangat dinantikan.Salam Budaya


Yulia Evina Bhara
08159311348
Powered by Piknikproject®

Friday, September 2, 2011

[vid] Yoga Kusumawijaya "Lil' YK back to fitri"


Monday, July 18, 2011

[video] skateboard manusia


Saturday, July 2, 2011

[video] Bandung Go Skateboarding Day 2011

Wednesday, June 29, 2011

In Crakk We Trash Skateboard Art Exhibition

Monday, June 20, 2011

[video] kosong pure saturday dinyanyikan oleh ollazen


kosong- ollazen

Coba untuk ulangi apa yang terjadi
Harap 'kan datang lagi
Semua yang pernah terlalui
Bersama alam menempuh malam
Walau tak pernah ada kesempatan
Terjebak dalam jerat mengikat
Namun tekad nyatakan bebas

Temukan diri di dalam dunia
Tak terkira...
Semua mati dan menghilang
Terlalu pagi temukan arti

Jalan panjang semakin lapang
Hanya dahan kering yang terpanggang
Tak ada teman telah terpencar
Namun waktu terus berputar
Peduli apa terjadi
Terus berlari tak terhenti
Untuk raih harapan
Di dalam tangis atau tawa

Temukan diri di dalam dunia tak terkira
Tak berarti tak akan pasti
Terlalu gelap...pergilah pulang

Tuesday, May 24, 2011

[video] Yoga "yk" Kusumawijaya - minipart video skateboard

Sunday, May 8, 2011

[video] #BDGNEEDSKATEPARK Video Presentation




#BDGNEEDSKATEPARK adalah sebuah gerakan moral yang berupaya untuk melakukan sosialisasi kepada khalayak umum seputar pentingnya pembuatan infrastruktur skatepark yang memadai di kota Bandung. Gerakan #BDGNEEDSKATEPARK ini awalnya diawali dari sebuah seruan sederhana beberapa skater Bandung di twitter yang secara tidak disadari telah mendapat respon yang cukup positif dengan banyaknya angka user yang menggunakan tag #BDGNEEDSKATEPARK untuk membantu sosialisasi gerakan moral ini.

Thursday, May 5, 2011

[video] triple trouble-Puppets Skate


triple trouble from Puppets Skate on Vimeo.
we call triple trouble for latest artworks would be released end of may2011. allfootage taken on photosession for HappenMagz advert.



skateboarder : deny tx,afriansyah,agung hb,rio ioio,harietz"bule"



photo by hafiz

song:weezer -troublemaker

www.puppetskate.com

Tuesday, May 3, 2011

[movie] Review: Water For Elephants



Directed by FRANCIS LAWRENCE written by RICHARD LAGRAVENESE cast ROBERT PATTINSON, CHRISTOPHER WALTZ, REESE WITHERSPOON, HAL HOLBROOK released in 2011

BINTANG

 


Water For Elephants adalah film di masa Great Depression di mana orang-orang berani menggadaikan atau menukar barang demi uang atau apapun itu. Merupakan sebuah kebanggaan bagi sebuah keluarga apabila ada dari mereka yang kerja berprofesi tinggi seperti dokter dan semacamnya, belum lagi itu menjadi jaminan hidup sentosa. Di situlah Hal Holbrook sebagai Jacob Jankowski yang sudah tua mulai menceritakan awal mula perjalanannya di dunia sirkus. Jacob yang muda dulu merupakan bagian dari tim sirkus terkenal yang juga paling kontroversial sejarahnya, The Benzini Brothers.

Robert Pattinson mulai mengambil alih narasi cerita dilanjutkan dengan hancurnya harapannya menjadi veterinarian lulusan sebuah sekolah Ivy League ketika Ia mendapat berita bahwa orang tuanya meninggal di kecelakaan. Sayangnya ayahnya sudah menjaminkan rumah mereka dan harta lainnya untuk biaya sekolahnya. Di situlah Jacob berkelana hingga akhirnya Ia sampai ke sebuah kereta yang ternyata rombongan sirkus tersebut.

Francis Lawrence yang dulu menytradarai I Am Legend memang punya selera bagus untuk film bertema sirkus ini. Ditemani dengan musik dari James Newton Howard, film ini melebihi ekspetasi untuk urusan keindahan artistiknya. Tapi sayangnya walaupun Lawrence bekerja sama dengan Richard LaGravenese (screenwriter Conviction, The Bridges of Madison County), film ini tetap sulit mencari siapa sebenarnya the main star attraction dari sirkus yang diklaim sebagai "the most spectacular show on earth”.

Christopher Waltz dan Reese Witherspoon yang masing-masing adalah pemenang Oscar berperan sebagai August sang pemilik sirkus dan Marlena, istri sang tuan dan performer utama sirkus tersebut. August muncul sebagai seorang yang karismatik tetapi menyembunyikan kedinginan yang berbahaya. Dengan aura yang sama seperti perannya di Inglourious Basterds, Waltz mampu membawa kita tetap terjaga ketika cerita romansa antara Marlena dan Jacob mulai berlarut-larut.


Bisa ditebak bahwa cinta segitiga mereka menjadi masalah utama sirkus ini. Jacob yang diangkat menjadi dokter bagi hewan-hewan di situ punya keyakinan bahwa Marlena akan hidup bahagia dan lebih aman dengannya, padahal kenyataannya Jacob selalu kalah dipukuli oleh August dan algojonya. Itulah sebabnya lebih menarik bagi saya untuk melihat Rosie sang gajah beratraksi di tengah arena daripada melihat ketiga manusia ini yang tak kunjung selesai bermain musuh dalam selimut. 

Mungkin terlalu lama Robert Pattinson bermain sebagai seorang vampire si franchise Twilight, karena bagi saya Jacob muda tidak menunjukan emosi yang cukup meluap atau keberanian yang meyakinkan. Dengan akting yang hanya dibantu oleh Christopher Waltz, film ini bukanlah tandingan Reese Witherspoon yang lebih layak memaikan karakter yang lebih unik dibanding Marlena yang bisanya jatuh hati ke pria mana saja yang janjinya lebih indah. Yakinlah Rosie sang gajah bermain lebih menantang dan lebih bagus daripada Robert Pattinson. Film ini mempunyai adegan klimaks yang penting, sayangnya sang sutradara gagal mengeksekusinya (dan adegan penting lainnya sebenarnya) dengan baik dan meninggalkan kita duduk manis saja. Alhasil, Water For Elephants hanya menarik untuk dilihat pertama kali dan itupun masih seperti ada yang kurang atau hilang dari ceritanya.
 
 
 
sumber : http://labirinfilm.blogspot.com/2011/04/review-water-for-elephants.html

Monday, May 2, 2011

[video] Rainwood Fingerboards Tryout

Monday, April 11, 2011

Sucker Punch movie

Sucker Punch is not one of the worst movies of the year, it's three of the worst slapped together on a single reel. The first film takes place in an insane asylum, where a girl has been wrongfully committed and faces the prospect of a lobotomy. That doesn't go anywhere.

The second film takes place in a sort of bordello, which we're left to assume the girl in the insane asylum has decided to pretend she's in. The movie never really comes out and says she's imagining it, nor attaches any real world relevance to it, until the last 90-seconds when it's far too late to get anyone to care. Even though she's twenty, apparently this girl's imagination works on a fourth grade level, because the bordello slash strip club is the kind of place where the girls' idea of getting friendly with the clients is kissing them on the neck, and instead of strip-teases they all just sort of get on stage and sway back and forth with their clothes on.

The third film imagines our heroine as one of a group of female commandos, who show up and receive a bunch of cliché life advice from an old guy who appears for no reason, before wandering off to kill a bunch of robots in alternate dimensions. Rinse and repeat. This third place has no real relation at all to any of the others, and it's sort of like a dream within a dream; which is to say it means even less than the dream which came before it. We know that this third world starts playing on the screen whenever the girl fantasizes that she's in the previous fantasy dancing, why or what this has to do with her boogie moves (which we never see) remains a complete mystery. I'm going to go out on a limb here and say this world exists only because co-writer/director Zack Snyder thinks girls with samurai swords are cool.

Girls with samurai swords are cool, but only if there's some reason to give a shit about what they're doing with them. You can have girls running around punching robots in the face, but if we know going in that this is just some empty fantasy which doesn't mean anything, well there's really no reason to pay attention much less care about what happens. Making a movie set in a series of fantasies or delusions only works if those fantasies or delusions mean something. Imagine Inception if they hadn't told us you can die in the dream world, or be sucked down into limbo. Inception took place in a world that wasn't real, but we cared about what happened in that fantasy because they found a way for that unreal place to have real implications. Sucker Punch doesn't bother.

Even if it did bother, the three completely different movies going on here have so little connection to each other that it's basically a big waste of time. Sucker Punch was written without a story to tell or without a single idea in its head beyond the poster they'd use to advertise it. It's kind of incredible that a script this bad got this far, if indeed there was a script, it's hard to believe that anyone involved with this production could have actually sat back, watched this disaster, and then thought they might want to let other people take a look at it. In their place, I'd be too embarrassed.

The story's so completely lifeless, the characters so hollow, the connection so non-existent, that you can't even really sit back and enjoy the visuals. It's as if Sucker Punch goes out of its way to make sure you know they're empty visuals, forms without substance, and even if all the CGI is done well enough that it should look real, it won't, because you know it's all just a pointless, hollow fantasy. The only thing that matters in this movie is what's happening in that insane asylum, which the film ignores entirely after the first five minutes in favor of showing us a series of meaningless delusions.

Of course it's not as if the visuals are all that impressive, at least not in long stretches. They look good in the trailer but in the movie they reveal themselves to be something else, something entirely flat and unoriginal. You're sure to hear a lot of critics comparing this movie to a video game, but what a lot of the ones who haven't actually played any games won't be able to get across is how literally true that is. One of the fight scenes plays out almost exactly like a battle in an outdated version of Tekken or Mortal Kombat, right down the camera angles used. There's a greater than 50% chance at least one person in the theater will stand up and shout "critical hit!" at some point during that sequence. Sucker Punch is a film so creatively bankrupt and empty, I'm not sure it even qualifies as a music video, let alone a video game or a movie. At least video games sometimes try new ideas, Sucker Punch is recycling video game ideas from the decades since defunct Sega Dreamcast.

The whole thing's utterly tone deaf too. It seems to have no idea how the audience will react to what's going on. Sucker Punch actively works to make it impossible for anyone to sympathize with or care about its characters. This is a movie in which the hero slaughters a fairly cute, sleeping animal to steal something from it, and then murders its understandably angry mother too, for no reason. Well I guess it didn't matter, none of it's real anyway is it? But aren't we're supposed to cheer for this? Be invested in it? I don't get it. I don't know what Zack Snyder was thinking and can't even begin to fathom how any movie this bad was allowed to exist. The movie's title has nothing to do with anything appearing on screen, so I'm pretty sure it's actually a reference to what the people who made it are doing to their audience. Be ready. Don't let Zack Snyder punch you in the wallet. (MiniGame)


------------------------------
www.piknikproject.tk---sent from blackberry

Sunday, April 10, 2011

Asktion dari aku cinta kamu; rilis produk baru

aku cinta kamu, itu nama sebuah art work untuk memproduksi karya-karya urban produk merilis sebuah boardpacker berlabel ASKTION. Waaah, karena perhatian mereka terhadap skateboard, maka itulah kenapa skatebag asktion ini diluncurkan.

Oya, harga skatebag sendiri berkisar sekitar 120 ribuan. Harga masih kategori normal. Buat kamu yang punya papan skate dan belum punya skatebag/boardpacker, produk asktion bisa jadi pilihanmu. (Tf)
www.piknikproject.tk---sent from blackberry

Sunday, March 13, 2011

Cin(T)a

"Kenapa Tuhan nyiptain kita beda-beda kalau Tuhan hanya ingin disembah dengan satu cara?"

Film independen dengan judul cin(T)a, sekalipun film tahun 2009 tapi menarik untuk saya review. Film ini tentang keberagaman di Indonesia, tentang cina, Perempuan, Tuhan, Suku, Agama, dan Cinta. Apa yang menarik dari film ini saya kira ide mengenai tema film: keberagaman. Sebut saja jika film ingin laku dipasar,kamu hanya perlu membuat film horor dan sedikit adegan panas.hahaha...

Film ini membuka mata kita untuk melihat sebuah perbedaan bukan menjadi ukuran bagi kebersamaan, sequel-sequel mengenai kesuksesan suami istri berbeda agamapun ditampilkan disini, berterimakasih pada Tuhan sebagai berkah atas karunia kebersamaan dalam ikatan cinta mereka.

Nah, ketika keberagaman dikoyak-koyak oleh sekelompok masa tertentu, saya kira film ini menjadi motivator bagi kehidupan keberagaman itu sendiri, minimal kita diingatkan kembali mengenai kebersamaan dan kerukunan hidup.


Pemeran Utama: Saira Jihan, Sunny Soon Skenario: Sally Anom Sari, Sammaria
Sutradara: Sammaria Simanjuntak
Produser: M. Adi Panuntun, M. Budi Sasono, Sammaria

-----------------Gambar & artikel sebagian diambil dari gun.web.id--------
sent from blackberry --> http://piknikproject.blogspot.com/

Thursday, March 10, 2011

Jackass 3D

All this awaits you in Jackass 3D, the third movie based on the TV series that started a franchise now celebrating a decade of gross-out glory. Sad to say, the 3D doesn't add much to the party, except for Bam Margera peeing in your face and the "Heli-cockter" sequence in which Chris Pontius ties a remote-controlled toy chopper to his dick and lets it rip. Even sadder, the Jackass guys, goaded on again by fearless leader Johnny Knoxville and director Jeff Tremaine, don't seem as eager to outrage as they once were.

Maybe age has mellowed them, that and a stench cloud of bad mainstream movies hanging over Knoxville (The Ringer, The Dukes of Hazzard), a heavily publicized stint in drug rehab for Steve-O and an epically bad marriage for Margera that earned its own TV show (MTV's Bam's Unholy Union). Or maybe, and it hurts to say this, time has just passed Jackass by.

These grinning bad boys, willing to dangle their dicks and shove anything up their asses, never pretended to be in it for anything more than a laugh. But this group of daredevils and former skateboarders — Spike Jonze was a founding Jackass father — always had a subversive agenda. By using physical comedy out of silent movies and offering up their own flesh, blood and sinew, they invented their own kind of performance art, an Olympics of body horror meant to force a visceral response. If you puked watching them puke, so much the better.

Stunts evoked the surrealist art of Salvador Dalí and the film experiments of Luis Buñuel (Jackass Number Two name-checks Buñuel's Un Chien Andalou, which showed a woman's eye being sliced by a razor) and David Cronenberg (look carefully at Scanners, Videodrome and Naked Lunch). Better yet, they evoked man's need to climb mountains, jump off cliffs, swim with sharks and laugh at fear. Since Jackass started, reality shows (Fear Factor, Big Brother, Survivor, name your poison) took the art out of the game and the method out of the madness.

Jackass 3D ends on a note of resignation, with a clip reel — set to Weezer's "Memories" — of the Jackass greatest hits. Knoxville and his boys seem to be saying goodbye. To which I can't help thinking, fondly, it's time. 

----miniGAME------
sent from blackberry --> http://piknikproject.blogspot.com/

Monday, February 7, 2011

fingerboards : heterowood world bigwig deck series


kali ini heterowood company, perusahaan fingerboards ini bekerja sama dengan endonesie boardshop merilis deck fingerboards dengan tema 'world bigwig' deck series. tokoh yang diangkat dalam graphisnya adalah : Jean Paul Sartre (filsuf asal prancis-buku terbaiknya adalah kata-kata dan psikologi imajinasi), friendrich nietzsche (filsuf asal jerman-buku terbaiknya adalah spoke to zarathustra), Andy warhol (amerika-seniman, sutradara avant garde, dan figur sosial amerika, dialah pencetus gerakan pop art), Karl Marx (jerman-filsuf, pakar ekonomi politik dan teori kemasyarakatan, cikal bakal kelas sosialisme lahir dari karyanya yaitu Manifest der Kommunistischen Partei), Jean Michel Basquiat (Amerika-seniman, pelukis grafitty, dialah yang mengangkat grafitty sebagai art, serta ikon dari urban pop).

dengan visual 'world bigwig' ini menginspirasi kesadaran kita terhadap beberapa figur dunia yang telah mengubah nilai dengan sangat luar biasa, misal pop artnya andy warhol yang terkenal dengan lukisannya yang dipadu dengan cara sablon dan memadukan warna-warni dengan sebegitu beraninya, hal ini menginspirasi designer populer diseluruh penjuru dunia, termasuk indonesia sendiri. lihat saja clothing industry di indonesia, bahkan hampir jelas kelihatan designnya terinfluence oleh andy warhol.

maka, bergembiralah teman-teman yang telah memiliki fingerboards dengan 'world bigwig' series. ayoo bermain sambil belajar!. (dn)

Wednesday, February 2, 2011

fingerboards seri tokoh perubahan indonesia


Pada akhir 2010, endonesie bekerjasama dengan rainwood fingerboards company sepakat untuk membuat produk fingerboards dengan tema tokoh indonesia.

Beberapa tokoh dipilih sebagai plot grafis untuk deck fingerboards, ada 5 tokoh perubahan indonesia yang kemudian dicetak dideck fingerboard, yaitu : tan malaka (buku terkenalnya yaitu : madilog/materialisme dialektika logika), chairil anwar (dengan puisi paling fenomenal sepanjang sejarah kesusastraan, judul : aku), pramoedya ananta toer (buku inspiratifnya yaitu bumi manusia), raden adjeng kartini (bukunya mengangkat kesetaraan gender : habis gelap terbitlah terang), dan abdurrahman wahid alias gusdur (tokoh pluralis dan kontroversial, ia satu-satunya tokoh yg hendak membubarkan parlemen dan menyebut lembaga itu sebagai kekanak-kanakan).

Tokoh-tokoh tersebut diperkenalkan kembali dalam ruang yang lebih simple dan tidak serius, tidak dicetakan buku atau lukisan serius, tapi dideck fingerboards.

Mengenal tokoh tersebut justeru diharapkan menginspirasi kita untuk selalu memperjuangkan kebenaran,belajar dari para pendahulu, mengingatkan kembali, dan tentu belajar sambil bermain fingerboards.

Have fun and cheers!!! (gh)